Thu. Sep 24th, 2020

Salah satu ukuran status kesehatan di Indonesia dapat kita lihat melalui angka rasio usia harapan hidup yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, tercatat angka rasio usia harapan hidup dari tahun 2012 (68,5 tahun) ke tahun 2016 (69,1 tahun) meningkat sebesar 0,6 tahun.

Selain itu, data hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa angka kematian anak usia dibawah 5 tahun mengalami penurunan secara signifikan sedangkan angka kematian neonatal dari tahun 2003 ke 2017 juga mengalami penurunan.

Namun demikian, dampak negatif terhadap status kesehatan akibat penyakit tidak menular meningkat secara signifikan. Lima besar penyakit tidak menular diperkirakan akan menghabiskan biaya di Indonesia sebesar $ 4,47 triliun (atau $ 17.863 per kapita) dari tahun 2012 hingga tahun 2030.

Salah satu kondisi yang menjadi perhatian penting dalam 4 tahun implementasi JKN adalah kasus pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) tahap akhir yang harus menjalani perawatan dialisis. Biaya perawatan dialisis yang ditanggung oleh program JKN pada 2 tahun terakhir (2016 dan 2017) sekitar 3,9 T dan meningkat signifikan hingga 4,6 T, menempati posisi kedua dengan total biaya perawatan tertinggi.

Menurut Kepala PKEKK FKM UI Prof. Budi Hidayat mengatakan terapi CAPD (cuci darah lewat perut) lebih efisien dari segi biaya dibanding Hemodialisa (HD).

“Terapi hemodialisis ada tiga: HD, CAPD dan transplantasi. Dari kajian di seluruh dunia paling bagus untuk tingkatkan kualitas hidup pasien adalah transplantasi. Kedua CAPD, kemudian HD. Apalahi CAPD lebih cost efficien dibandingkan HD, tapi yang lebih banyak diberikan (pelayanan) HD. Di mana letak permasalahannya?,” ujar Budi di konferensi Inahea ke-5 di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Rabu (31/10)

Namun, kebanyakan pasien menerima perawatan HD. Data IRR dari Pernerfri per Okober 2018, pertumbuhan pasien CAPD hanya berkisar di 8 persen, sementara pertumbuhan pasien HD per tahun mencapai 40-50 persen.

Hal ini dikarenakan lambatnya pertumbuhan tersebut disebabkan ketersediaan alat penyedia CAPD yang terbatas.

“Ditambah dengan rendahnya edukasi baik kepada pasien dan dokter menyebabkan penyediaan layanan sedikit,” paparnya.

admin

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *