Sat. Oct 24th, 2020

Bullying (perundungan) masih terus terjadi pada banyak anak di sekolah, lingkungan tempat tinggal, bahkan di dunia maya. Bullying, seperti tercantum dalam situs Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations/UN), didefinisikan sebagai perilaku disengaja dan agresif yang terjadi berulang terhadap korban, di mana ada ketidakseimbangan kekuatan yang nyata atau yang dirasakan, serta korban merasa rentan dan tidak berdaya untuk membela diri. Ingatlah bahwa siapapun bisa menjadi korban bullying. Namun, kita semua bisa melakukan sejumlah cara untuk mencegah agar anak tak menjadi korban bullying.

Bullying terjadi dalam bentuk fisik, verbal, dan yang terbaru adalah di dunia maya atau dikenal dengan istilah "cyber bullying". Bullying bisa membuat korban merasakan depresi, yang pada beberapa kasus berujung pada bunuh diri. Karenanya keluarga dan lingkungan punya peran yang sangat penting dalam hal pencegahan.

Psikolog dari Citra Ardhita Psychological Services, Ayoe Sutomo, M.Psi menyebutkan, beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua pada anak agar terhindar dari aksi bullying, antara lain: Ayoe menjelaskan, konsep diri adalah bagaimana anak memandang dirinya, untuk itu anak perlu diajarkan untuk memiliki pandangan diri yang baik. Membentuk pandangan diri yang baik bisa diawali dengan menciptakan lingkungan yang suportif di keluarga. Misalnya, dengan tidak sering menyalahkan anak karena bisa merusak konsep diri mereka.

"Misalnya dengan mengatakan, 'Kamu enggak bisa apa apa, gitu aja enggak bisa.' Kata kata itu kecil, tapi jika berulang, konsep anak akhirnya merasa enggak bisa apa apa," ujarnya. Setiap anak pasti memiliki kekurangan, namun setiap anak juga pasti memiliki kelebihan. Bantulah anak untuk menemukan dan mengeksplorasi kelebihannya agar anak memiliki pandangan yang baik terhadap dirinya, lebih percaya diri dan mampu menghadapi lingkungannya dengan baik.

Hal ini dilakukan untuk membangun kepercayaan diri anak dan membuat dirinya merasa mahir di bidang tersebut. Sehingga, ketika suatu saat anak menjadi korban bullying dan dijauhi sekelompok anak tertentu, dia cenderung tak memandangnya sebagai masalah dan bisa bergaul dengan teman temannya yang lain. Anak korban bullying seringkali ada di posisi yang tidak berdaya dan cenderung tidak bisa menolak perlakuan buruk terhadapnya.

Untuk mencegah hal itu, orangtua bisa mengajari anak untuk berani mengatakan "tidak". "Jadi ketika diperlakukan tidak baik, dia bisa bilang bahwa dia tidak suka diperlakukan begitu," kata Ayoe. Orangtua juga perlu terus menekankan pada anak bahwa mereka akan terus mendukung anak, apapun kondisinya.

Buat anak merasa nyaman untuk menyampaikan masalah yang dihadapinya di luar. Sehingga ketika anak berhadapan dengan seseorang, mereka tahu akan selalu mendapatkan dukungan dan diterima oleh orangtuanya. Ayoe menjelaskan, seringkali pelaku bullying merupakan korban bullying. Maka hal yang perlu dilakukan adalah mencegah anak menjadi pelaku bullying.

Caranya adalah membentuk konsep diri yang bagus pada anak. Tanamkan dalam diri anak bahwa mereka bisa menjadi hebat tanpa harus menjatuhkan dan merendahkan orang lain. "Itu juga dibangun di rumah, dengan diterima dan dicukupi secara emosi, itu akan membuat anak merasa cukup dan terpenuhi sehingga dia enggak perlu merendahkan orang lain untuk menjadi lebih hebat," ungkapnya.

Membangun rasa empati pada diri anak juga bisa mencegah dirinya menjadi pelaku bullying. Ayoe menyarankan orangtua untuk sering mengajak anak melihat orang orang dengan kondisi kehidupan yang lebih sulit dan mengajak mereka untuk mau berbagi. Buat anak mau mengungkapkan pendapatnya jika berada pada posisi orang yang mengalami kesulitan.

Misalnya, dalam kasus bullying. Buat anak berpikir jika mereka ada di posisi korban bullying dan tanyakan apa yang mungkin mereka rasakan jika ada di posisi korban. "Hal hal seperti itu dipancing dari anak sehingga anak punya rasa empati. Sehingga ketika dia mau melakukan sesuatu, dia punya pakem: “oh iya ya kalau saya digituin, saya juga enggak mau," katanya. Rasa empati terbangun tidak dalam waktu singkat. Empati perlu ditanamkan secara terus menerus dan diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

"Membentuknya tidak sehari dua hari, tapi tidak ada kata terlambat untuk membentuknya," kata Ayoe.

admin

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *