Fri. Dec 4th, 2020

RSUD Moewardi Solo memproduksi alat pelindung diri (APD) berupa baju hazmat (hazardous materials suit) seluruh badan. Kabar ini sudah tersebar di berbagai media massa hingga pihak berbagai rumah sakit di Indonesia menghubungi Direktur RSUD Moewardi Cahyono Hadi untuk minta disuplai. Daripada menyuplai ke seluruh Indonesia, Cahyono lebih memilih menunjukkan tutorial cara membuat APD sendiri kepada para pihak rumah sakit itu.

Awalnya, pihak RS Moewardi memang sempat diminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menyuplai APD ke seluruh Jateng. Ketika ditaya soal permintaan Ganjar, Cahyono menegaskan pihaknya hanya bisa memproduksi APD secara terbatas. Meski RS Moewardi sudah melibatkan penjahit langganannya, namun tetap saja produksi maksimal hanya mencapai 300 buah per hari.

"Rumah Sakit Moewardi kan bukan produsen konveksi," tegas Cahyono. "Memang kita bisa membantu, memperbanyak produksi, dengan melibatkan beberapa penjahit yang sudah menjadi penjahit langganan baju RS Moewardi," terang Cahyono. "Tapi bagaimana pun juga kapasitasnya mungkin kita masih sekitar 200 300 per hari," imbuhnya.

Cahyono menambahkan, jika nanti akan didistribusikan ke seluruh Jateng, maka ia menyalurkannya melalui Dinas Kesehatan Jateng. "Kita membantunya hanya lewat Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah," Cahyono mengakui banyak rumah sakit yang ingin disuplai APD dari RS Moewardi.

"Memang ada rumah sakit seluruh Indonesia yang telepon saya," kata Cahyono. Ia lebih memilih untuk membagikan tutorial cara membuat APD sendiri agar rumah sakit bisa mandiri. "Saya ajari, bahannya apa, kemudian saya beri video gimana cara membuatnya," ujar Cahyono.

"Iya, kita bertujuan untuk rumah sakit rumah sakit teman teman kita untuk membuat APD secara mandiri," sambungnya. Selain itu, Cahyono menghindari adanya pihak ketiga yang kemungkinan menaikkan harga APD produksinya. "Karena bagaimana pun juga di dalam situasi ini ada beberapa spekulan yang menaikkan harga baju, mohon maaf, dengan tinggi sekali," terang Cahyono.

"Kita berpikiran bahwa ini harus kita penuhi dengan berdikari," imbuhnya. Dalam wawancara itu, Cahyono menyebut pihak RS Moewardi berinisiatif membuat APD sendiri lantaran langkanya APD di pasaran. Berawal dari rapat para tenaga medis, akhirnya ditemukan bahan baku yang sesuai.

"Ketika di pasaran, baju cover all ini habis, maka kita mencari contoh bahannya, kemudian kita rapat dengan staf staf saya," ungkap Cahyono. "Kemudian kita mencari bahannya, ternyata bahannya adalah polypropylene spunbond," sambungnya. Dengan contoh bahan APD yang digunakan saat flu burung, pihak RS Moewardi kemudian memodifikasi dengan perbaikan agar sesuai untuk menangani virus corona.

"Bahan ini pernah dipakai waktu ada wabah flu burung." "Kemudian kita membuat contoh juga, dengan adanya perbaikan, begitu cocok, maka kita produksi massal," terangnya. Cahyono menjelaskan bahan baju APD ini sudah sesuai untuk menangani virus corona yang kabarnya sudah bisa tertular melalui udara atau airbone.

"Seperti kita ketahui, virus corona itu menular lewat droplet, dan lewat airborne," ujar Cahyono. "Baju ini adalah seperti sponge, jadi kalau ada droplet dari riak seseorang, orang berbicara, dia akan menempel, dan virus tidak bisa menembus," paparnya. Namun yang menjadi masalah adalah penggunaan APD yang sekali pakai sehingga menuntut untuk produksi terus menerus.

"Cuma yang menjadi masalah, pakaian ini sekali pakai, buang," kata Cahyono. "Kita bisa menjamin bahwa hazmat suit ini tidak akan menulari para penggunanya," ungkapnya. Kabid Pelayanan RSUD Moewardi Solo Bambang SW menjelaskan soal produksi APD RS Moewardi dalam wawancara unggahan YouTube KOMPASTV, Senin (23/3/2020).

Bambang menjelaskan proses produksi APD ini tidak boleh sembarangan dan harus benar benar steril. "Buatannya supaya tetap steril, kita perhatikan, yang menjahit tetap harus cuci tangan, pakai handrub, pakai masker," ujar Bambang. Bambang menyebut pembuatan APD ini sebenarnya untuk pihak RS Moewardi saja lantaran APD kini langka di mana mana.

Namun lantaran RS Moewardi milik Pemprov Jateng, maka dari itu rumah sakit ini siap untuk mendistribusikan ke rumah sakit lain di Jateng. "Ini sebetulnya untuk keperluan internal. Kalau untuk seluruhnya kan harus punya AKD (izin produksi), kami enggak punya, jadi ini internal, " terang Bambang. "Ini untuk internal rumah sakit dan tentunya untuk kebutuhan kalau provinsi, Dinkes, kan sama saja dengan rumah sakit."

"Kalau Dinkes minta ya kita buatkan," ujarnya. Diketahui, harga APD cukup terjangkau, yakni Rp 50 ribu, sedangkan harga normal APD bisa mencapai Rp 150 ribu ke atas. Ganjar Pranowo pun sudah meninjau produksi APD itu dan sangat mengapresiasinya.

"RS Moewardi dengan kreatif membuat sendiri, harganya jauh lebih murah," puji Ganjar dalam kunjungannya ke RS Moewardi. Ganjar kemudian mengimbau rumah sakit di Jateng untuk memesan APD buatan RS Moewardi melalui Dinas Kesehatan Jateng. "Maka, kepada rumah sakit rumah sakit yang ada di Jawa Tengah, Anda boleh kontak ke Dinas Kesehatan Provinsi agar kita menyiapkan dengan baik," imbaunya.

"Sehingga tidak ada lagi (kekurangan)," tambahnya. Ganjar mengaku senang dengan langkah cepat dan kreatif RS Moewardi yang bisa meringankan beban pemerintah pusat. "Kita di daerah membantu pusat, jangan membebani pusat, dengan cara kita mesti inovatif, mesti kreatif, dengan cara yang seperti ini," kata Ganjar. Dalam kunjungannya itu, Ganjar juga meninjau produksi hand sanitizer oleh mahasiswa yang bisa didistribusikan ke tempat tempat yang membutuhkan.

"Belum lagi tadi banyak pelajar bisa membuat seperti ini, dan ini bisa kita bagikan," ujar Ganjar sambil mengangkat jeriken berisi hand sanitizer. Kini, Ganjar tengah mendorong produksi masker untuk didistribusikan di seluruh Jateng. "Tinggal satu lagi nanti PR nya. Hari ini kita lagi mau ngecek ke pabrik masker untuk kita melihat persediaannya," tandasnya.

admin

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *