Fri. Nov 27th, 2020

Terutama karena pandemi virus Corona. Dirinya menerapkan cloud kitchen di restorannya, seperti apa? Gibran Rakabuming mengubah konsep restorannya menjadi cloud kitchen karena pandemi virus Corona, seperti apa cloud kitchen itu?

Banyaknya masyarakat yang melakukan karantina diri saat pandemi virus Corona membuat berbagai tempat menjadi sepi. Hal tersebut dapat berdampak buruk pada perekonomian para pengusaha makanan dan sejenisnya. Tidak sedikit pengusaha yang menjadi rugi karena hal tersebut.

Maka, para pelaku usaha harus memutar otak agar dapat tetap berjalan. Gibran Rakabuming adalah figur publik yang dikenal karena berbagai usaha yang dimilikinya. Dirinya juga memiliki sejumlah usaha di bidang kuliner.

Bagaimana cara Gibran Rakabuming bertahan di tengah pandemi? Gibran Rakabuming, bercerita bagaimana ia dapat mempertahankan bisnis makanannya dengan cara menerapkan konsep cloud kitchen . "Di tengah musibah ini, kita juga bisa lho.

Misalnya brand Mangkok Ku kita masih bisa lho berekspansi buka dua cabang. Tapi konsepnya cloud kitchen ," kata Gibran dalam telekonferensi bersama Krista Exhibitions bertajuk "Recovery of the Food & Beverage Industry After Covid 19", Rabu (20/5/2020) malam. Cloud Kitchensendiri merupakan restoran dengan konsep yang hanya menawarkan layanan pesan antar tanpa menyediakan fasilitas makan di tempat. Gibran menuturkan konsep konsep baru seperti ini dapat terus dikembangkan bagi para pelaku bisnis makanan dan minuman.

Oleh sebab itu, ia menyatakan bahwa musibah bukan lah suatu penghalang melainkan menjadi semangat untuk selalu berinovasi. "Kalau brand saya kebanyakan tetap butuh dine in , karena makan itu kan kita datang ke kafe atau restoran itu kan sebuah experience . Jadi kalau cloud kitchen ini sifatnya saya kira hanya sementara untuk survive di masa ini," ujarnya.

Ia juga memberi catatan bahwa cloud kitchen biasanya mudah dilirik jika restoran tersebut sudah dikenal masyarakat luas. Selain itu, pelanggan cloud kitchen dikatakan Gibran merupakan orang orang yang membutuhkan pelayanan makanan secara cepat. "Mereka ini orang orang yang quick lunch, enggak ribet, enggak bikin meja kerja kotor, inginnya cepat cepat.

Ya karena itu, cloud kitchen ini kita gunakan untuk masa survive saja," terangnya. Selain itu, Gibran juga menyarankan alternatif lain untuk UMKM dapat bertahan di tengah pandemi dengan cara beralih ke digital dan mengutamakan kebersihan. "Contohnya, kan biasanya banyak di pinggir jalan itu jualan ayam geprek ya.

Itu karena masa masa Covid 19 ini sebaiknya minyak diganti sesering mungkin. Nah, hal hal seperti ini yang kadangpelaku UMKMitu enggak engeh," jelasnya. Karena virus Corona, pemerintah menghimbau bagi masyarakat untuk tidak keluar rumah.

Sejumlah pemerintah daerah juga menerapkan kebijakan para Aparatur Sipil Negara untuk kerja di rumah. Banyaknya masyarakat yang melakukan karantina diri membuat berbagai tempat menjadi sepi. Kebijakan work from home itu berdampak buruk pada perekonomian para pengusaha makanan atau sejenisnya.

Banyak pihak yang menjadi rugi karena hal tersebut. Salah satunya adalah pemilik kopi yang satu ini. Warung kopi sederhana yang kerap dijadikan tempat nongkrong warga ikut terdampak akibat kebijakan WFH.

Jimi, pria asal Kuningan sekaligus pemilik warung kopi di kawasan Bekasi Jaya, Kota Bekasi mengaku omzet per harinya turun drastis pascakebijakan WFH. "Omzet pendapatan turun drastis bisa 80 persen lah turun. Sepi banget yang beli, paling satu hari tidak lebih dari 10 orang yang beli," kata Jimi di lokasi, Selasa (31/3/2020). Dia menjelaskan, jika pada hari normal dirinya mampu meraup omzet hingga Rp 500.000 per hari, kini dia hanya mampu mendapat sekitar Rp 100.000 per harinya.

"Ini sudah berlangsung dua minggu lah. Sepi banget, jalanan sepi, yang ngopi juga sepi," ujar Jimi. Penurunan omzet secara drastis itu membuat dirinya tidak dapat membeli stok barang barang yang habis. Pendapatan hariannya kini hanya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan pokoknya sehari hari. Meski warungnya sepi pembeli, dia tidak berniat untuk menutup usahanya.

"Ya jadi tidak balik modal, itu saya ada stok yang habis kayak telur buat mie kan habis, saya tidak bisa beli. Penghasilan cuma segini ya cuma cukup buat makan sehari hari, tidak cukup untuk modal," ujar Jimi. Jimi berharap, pandemi Covid 19 di Indonesia segera berakhir dan aktifitas masyarakat Indonesia bisa kembali normal. Sehingga para penikmat kopi tidak khawatir lagi untuk sekadar menikmati kopi dan bercengkerama di warung kopi.

admin

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *